Sebuah proyek ladang mikrohidro terapung akan dibangun dengan menggunakan tipe turbin Darrieus. Tiap turbin didesain menghasilkan daya sebesar 3 kW / turbin yang dipasang secara vertikal (bersusun) pada area 40 m x 40 m x 16 m sehingga jumlah turbin yang dapat dipasang pada area tersebut adalah 492 turbin dengan asumsi umur ekonomis 25 tahun.
Berdasarkan rencana proyek maka dapat disusun rencana anggaran biaya sebagai berikut:
No. | Komponen | Total biaya |
1. | Turbin | Rp. 800.000.000 |
2. | Generator | Rp. 750.000.000 |
3. | Rangka ladang mikrohidro | Rp. 1.050.000.000 |
4. | Kabel, konektor | Rp. 700.000.000 |
5. | Biaya pemasangan, transportasi | Rp. 1.000.000.000 |
6. | Operasional & maintenance | Rp. 100.000.000 |
Total biaya | Rp. 4.400.000.000 | |
Pelaksana proyek mendapat pinjaman dana dari bank sebesar 60% dari total dana yang dibutuhkan dengan interest rate 7% sedangkan sisanya merupakan dana yang bersumber dari APBD dan tidak perlu dikembalikan. Tetapi, untuk mendapatkan dana tersebut pelaksana proyek harus mendapatkan persetujuan dari DPRD setempat.
Rencana pemakaian konsumen:
Dari total daya terbangkitkan ( 1,2 MW), daya yang akan digunakan untuk konsumen sebesar 1 MW ( 1.000 kW) dan 0,2 MW digunakan sebagai daya cadangan. Adapun pembagian penggunaan konsumen sebagai berikut:
Tipe konsumen | Daya | Jumlah konsumen |
Kelompok 1 | 450 watt | 1.821 KK |
Kelompok 2 | 900 watt | 200 KK |
Asumsi rata – rata pembayaran tiap bulan sebagai berikut
Kelompok 1 sebesar Rp. 35.000 / KK
Kelompok 2 sebesar Rp. 75.000 / KK
Sehingga rencana pemasukan tiap tahun mencapai Rp. 944.820.000
Bagaimana analisis ekonomi pembangkit listrik mikhidro terapung tersebut sehingga bisa disetujui oleh anggota DPRD daerah setempat?
Analisis
Modal (total modal) : Rp. 4.400.000.000 (a)
Umur ekonomis : Rp. 25 tahun (b)
Operasional & maintenance/tahun : Rp. 100.000.000 (c)
Karena 40% dana bersumber dari APBD tidak dikembalikan maka besar dana pinjaman dari bank adalah
Dana bank : Rp. 2.640.000.000 (d)
Sehingga bunga bank adalah
Bunga bank (i=7%) : Rp. 184.800.000 (e)
SFF untuk i=7%, dan n=25 thn : 0,0158 (f)
Nilai depresiasi dapat dihitung sebagai berikut
Depresiasi = SFF * modal bank (g)
= 0,0158 * Rp. 2.640.000.000
= Rp. 41.712.000
Dengan demikian, maka biaya tahunan adalah
Biaya tahunan = c + e + g (h)
= Rp. 100.000.000 + Rp. 184.800.000 + Rp. 41.712.000
= Rp. 326.512.000
Benefit tahunan = pemasukan tahunan – biaya tahunan
= Rp. Rp. 944.820.000 - Rp. 326.512.000
= Rp. 618.308.000
Net benefit = benefit tahunan – depresaisi
= Rp. 618.308.000 - Rp. 41.712.000
= Rp. 576.596.000
BCR = benefit tahunan / biaya tahunan
= 1,89
Analisis BEP dapat dilakukan dengan 2 kondisi yaitu sebagai berikut:
1. Jika modal yang dikembalikan hanya modal dari pinjaman bank, maka
BEP = modal bank / net benefit
= Rp. 2.640.000.000 / Rp. 291.796.000
= 9,05 ≈ 9
Jika modal yang dikembalikan hanya pinjaman bank maka BEP terjadi pada tahun ke – 9.
2. Jika modal yang dikembalikan termasuk modal dari dana APBD maka
BEP = modal (total modal) / net benefit
= Rp. 4.400.000.000 / Rp. 291.796.000
= 15,08 ≈ 15
Jika modal yang dikembalikan merupakan modal total (APBD dan bank) maka BEP terjadi pada tahun ke – 15.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa BCR > 1 sehingga pembangkit listrik mikrohidro terapung tersebut dinyatakan layak untuk dibangun. Dengan demikian, proyek tersebut bisa mendapatkan persetujuan dari anggota DPRD setempat.
No comments:
Post a Comment